matahari dan bintang

August 11, 2008

Uji Adonan

Filed under: Hidup di Singapura

’senengnya perkedel jagung gue akhirnya jadi….slump test nya musti ok!’

Seketika saya terbahak-bahak membaca barisan kalimat kawan saya di atas. Beginilah jadinya kalau dua orang yang pernah bersama-sama berkubang di ruang percobaan pembikinan adonan yang diperlukan untuk membangun tembok, membicarakan perkedel.

Paling tidak, saya sekarang tidak sendiri lagi. Kadang saya memang memandang adonan bakwan sayur yang saya buat dan membandingkannya dengan adonan beton. Ayakan tepung yang harus sempurna, apalagi kalau tepungnya kebetulan berkutu, maka HARUS lolos uji saringan paling halus.  Sieve analysis! Uji saring yang membosankan karena jumlah saringannya dan bahan yang harus disaring membuat menjerit, yang belakangan saya tahu setelah lolos lalu lulus, bahwa banyak kawan yang men-subcon-kan pekerjaan tersebut ke mas-mas laboran. Oh, begini rupanya latihan mempersiapkan diri menghadapi kerasnya dunia rekayasa, subcon sedini mungkin!

Setelah mencampur tepung terigu dengan bahan baku lain, pikiran juga melayang ke campuran agregat untuk membentuk slump beton yang sempurna. Bakwan [dan perkedel] juga serupa. Perbandingan air dan tepung harus diatur sedemikian sehingga seperti juga perbandingan semen-pasir-kerikil-air, dalam hal ini menjadi adonan bakwan atau menjadi adonan beton, menghasilkan slump yang baik.

Setelah semua agregat tercampur, ada uji adonan. Slump test! Bakwan: ambil sesendok adonan, jatuhkan kembali ke dalam mangkok adonan, adonan baik baila jatuhnya tidak terlalu cepat, tapi menggantung dulu di sendok. Artinya air tidak terlalu banyak. Beton: ambil sesekop adonan beton, masukkan ke corong yang terbalik sampai penuh, angkat corong, adonan beton yang baik tidak akan melorot turun lebih dari pagu yang sudah ditentukan oleh buku sakti.

Bakwan menjadi garing renyah dan enak dimakan, beton menjadi kering pada waktunya, keras dan bisa menopang beban dengan baik. Keliatannya, sekolah yang saya masuki dulu memang sudah dengan baik menyiapkan saya untuk jadi… tukang bakwan yang baik.

 

 

August 9, 2008

Sedikit Sini Sedikit Sana

IMG_6921Biru dan kuning ternyata menarik sekali disandingkan. Paling tidak seperti terlihat di samping. Kesannya serasi. Kuning tenda atap daerah di mana kursi-kursi jemur berjajar, yang ternyata tidak terlalu berguna waktu matahari sedang semangat sekali menyengat. Biru langit yang menyesatkan karena waktu indah birunya pol, matahari ganas menggosongkan kulit.

Gambarnya saya ambil waktu jalan-jalan ke Wild Wild Wet di timur Singosari Singapura sana. Baru sekali itu saya pergi ke WWW. Itu pun karena ada yang bersedia membayari. Kalau tidak dibayari, besar kemungkinan saya masih enggan masuk ke WWW berhubung harga karcisnya bisa saya pakai membuat setumpuk sate.

Omong-omong selingan sejenak, waktu saya ke WWW itu, saya sempat melihat 2 putra pentolan grup ben The Batu.

Kembali ke obrolan sebenarnya. Saya mohon maaf karena belum membalas pesan-pesan yang kawan-kawan tinggalkan di kotak teriak dan kotak tanggapan tulisan-tulisan saya. Beberapa pertanyaan tentang ASI dan pulau Sikuai juga belum terjawab. Saya jawab sekaligus saja di sini.

Tentang ASI, saya anjurkan untuk mengikuti kata hati saja. ASI terbaik untuk bayi, itu sudah jelas. Perabotannya juga jelas, menempel di badan kita. Tinggal jawab pertanyaan terpentingnya, apa kita mau untuk memberikan ASI. Petunjuk pelaksanaan pemberian ASI-nya bertebaran di mana-mana, koran, majalah, internet, narasumber langsung seperti dokter pro-ASI, ibu mertua, ibu kandung sendiri, tetangga maupun sahabat. Sekali kita berketetapan untuk tetap memberi ASI, jalan akan selalu terbuka.

Tangisan bayi memang terasa sulit dihadapi terlebih waktu beberapa hari sampai sebulan setelah bersalin. Tapi kegembiraan melihat perkembangan si Kecil karena ASI yang kita berikan adalah hadiah yang sungguh besar.

Tentang pulau Sikuai, saya sama sekali tidak punya keterangan terbaru. Jadi sungguh mohon maaf.

Nah, kalau tentang pulau Singapura, jelas saya punya cerita. Tidak bisa dibilang baru, tapi juga mungkin beberapa belum tahu kalau Singapura sekarang jauh lebih mahal timbang 8 tahun lalu. Belakangan beberapa kawan menanyakan biaya hidup di Singapura. Wah, pasti karena mereka ada kemungkinan pindah ke SG.

E-mail yang beberapa bulan lalu saya tulis untuk kawan lain dengan pertanyaan yang sama, ternyata sudah basi. Harga beras sudah beda dengan 6 bulan lalu. Kokocrunch dan Milo juga naik 40 sen. Telur di warung sebelah naik 30 sen. Belum lagi kalau membicarakan harga sewa rumah yang lha kok belum juga turun.

Saya dengan sedikit enggan mengakui pada kawan terakhir yang bertanya tentang biaya hidup di SG bahwa saya sudah agak enggan memikirkan kecenderungan kemalahan yang kurang jelas kapan berakhirnya. Ada memang yang turun harga. Tapi itu memang selalu turun sejak dulu. Harga langganan bulanan internet tanpa batas.

July 25, 2008

Daiso

IMG_5119 Berjanji bertemu di Vivocity. Di mana tepatnya?

Di Daiso, lantai 3 Vivocity. Kalau masuk dari tengah lobi lantai dasar Vivocity, naik lewat tangga berjalan di tengah sampai lantai 3, lalu berjalan ke arah kiri sampai mentok. Di sanalah Daiso mojok.

Sudah lama sekali saya tidak ke Daiso. Kepentingan utama saya bila ke Daiso adalah untuk memperbarui baki dan gril baja yang saya pakai untuk nyate.

Isi Daiso bukan main ragamnya. Dari tongkat pel sampai benang jarum. Celana dalam dan sandal pun juga ada. Panci sendok gelas tersedia.

Bila menemukan barang cantik lucu multiguna atau amat penting di sini, tidak perlu bertanya berapa harganya. Semua barang dihargai sama, SGD 2.

Tapi patut waspada juga untuk para pengunjung yang belum punya imunisasi anti belanja banyak. Jaga dompet anda. Jangan buka bila tidak perlu sekali. Kalau perlu ajak saya supaya saya bisa bilang: Kan udah punya [Kan nggak perlu-perlu amat], ngapain beli. Oh betul, saya menikmati sekali mengeluarkan kalimat tersebut.

Anggarkan sebelum masuk toko, akan beli berapa barang dan stick to the budget. Jangan bawa uang lebih, apalagi kartu ATM dengan fasilitas NETS.

May 18, 2008

Siap-siap Siap-siap

Filed under: Hidup di Singapura
Banyaknya sekolah dasar di Singapura dengan mutu nyaris sama bukan berarti berkurangnya rasa pusing banyak orang tua calon siswa SD.

Ingin sekolah yang dekat rumah, ingin sekolah yang ‘bagus’ [menurut ukuran masing-masing], ingin sekolah dengan berbagai ketentuan khusus.

Tambah pusing kepala bila orang tua adalah pemegang ijin kerja atau orang asing tanpa status penduduk tetap. Untuk yang termasuk golongan ini hanya akan mendapat ’sisa’ kursi setelah diduduki oleh warga negara Singapura serta orang asing yang penduduk tetap [permanent resident], atau orang asing dengan putra/ putri yang sedang belajar di sekolah yang ingin dimasuki adiknya.

Beberapa sekolah bahkan mengadakan undian untuk menentukan calon muridnya karena peminat di daerah sekitar sekolah lebih banyak dari daya tampungnya.

Tulisan di website di atas mungkin sedikit membantu menambah penegtahuan tentang tata cara pendaftaran SD di Singapura. Ceklik ini untuk memperbesar gambar dan mengetahui alamat website.

May 14, 2008

Jalan-jalan Dong

Filed under: Hidup di Singapura
Suatu sore mendadak rumah saya penuh ransel. 5 orang kawan yang saya kenal dari milis Indobackpacker sudi mampir walau sebelumnya kami belum pernah bertemu.

Mereka cuma hit and run saja di Kandang Singa. Setelah beberapa jam berkeliling dengan kereta api, mereka datang lagi lalu angkat ransel dan langsung pergi lagi ke bandara Senai di Johor.

Dari Senai tujuan berikutnya ada Macau, lalu Hong Kong, lalu Shenzhen lalu entah ke mana lagi.

Duh, duh, coba saya masih bisa mabur sebentar sana-sini seperti mereka. Mesti saya juga langsung ngepak dan angkat ransel ngikut mereka.

Terima kasih sudah mampir ya, kawan-kawan.























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan