Uji Adonan
’senengnya perkedel jagung gue akhirnya jadi….slump test nya musti ok!’
Seketika saya terbahak-bahak membaca barisan kalimat kawan saya di atas. Beginilah jadinya kalau dua orang yang pernah bersama-sama berkubang di ruang percobaan pembikinan adonan yang diperlukan untuk membangun tembok, membicarakan perkedel.
Paling tidak, saya sekarang tidak sendiri lagi. Kadang saya memang memandang adonan bakwan sayur yang saya buat dan membandingkannya dengan adonan beton. Ayakan tepung yang harus sempurna, apalagi kalau tepungnya kebetulan berkutu, maka HARUS lolos uji saringan paling halus.
Sieve analysis! Uji saring yang membosankan karena jumlah saringannya dan bahan yang harus disaring membuat menjerit, yang belakangan saya tahu setelah lolos lalu lulus, bahwa banyak kawan yang men-subcon-kan pekerjaan tersebut ke mas-mas laboran. Oh, begini rupanya latihan mempersiapkan diri menghadapi kerasnya dunia rekayasa, subcon sedini mungkin! 
Setelah mencampur tepung terigu dengan bahan baku lain, pikiran juga melayang ke campuran agregat untuk membentuk slump beton yang sempurna. Bakwan [dan perkedel] juga serupa. Perbandingan air dan tepung harus diatur sedemikian sehingga seperti juga perbandingan semen-pasir-kerikil-air, dalam hal ini menjadi adonan bakwan atau menjadi adonan beton, menghasilkan slump yang baik.
Setelah semua agregat tercampur, ada uji adonan. Slump test! Bakwan: ambil sesendok adonan, jatuhkan kembali ke dalam mangkok adonan, adonan baik baila jatuhnya tidak terlalu cepat, tapi menggantung dulu di sendok. Artinya air tidak terlalu banyak. Beton: ambil sesekop adonan beton, masukkan ke corong yang terbalik sampai penuh, angkat corong, adonan beton yang baik tidak akan melorot turun lebih dari pagu yang sudah ditentukan oleh buku sakti.
Bakwan menjadi garing renyah dan enak dimakan, beton menjadi kering pada waktunya, keras dan bisa menopang beban dengan baik. Keliatannya, sekolah yang saya masuki dulu memang sudah dengan baik menyiapkan saya untuk jadi… tukang bakwan yang baik.
Biru dan kuning ternyata menarik sekali disandingkan. Paling tidak seperti terlihat di samping. Kesannya serasi. Kuning tenda atap daerah di mana kursi-kursi jemur berjajar, yang ternyata tidak terlalu berguna waktu matahari sedang semangat sekali menyengat. Biru langit yang menyesatkan karena waktu indah birunya pol, matahari ganas menggosongkan kulit.
Berjanji bertemu di Vivocity. Di mana tepatnya?

