matahari dan bintang

August 10, 2008

Dendeng Dari KUD

IMG_5924Berapa lama saya tidak melihat dan mendengar lagi istilah ini? KUD, Koperasi Unit Desa.

Dulu sekali waktu sesekali kami diajak bermobil oleh Ibu Bapak ke Solo dan Jogja, saya pernah sibuk mencatati KUD apa saja yang kami lewati sepanjang jalan.

April lalu saya baru membaca kembali tulisan KUD. Sejenak termangu memandangi tulisan di kotak pembungkusnya. Apa ya KUD, itu?

Ah ya, tentu saja. Bagaimana saya bisa lupa! Apalagi kalau bukan yang suka dijadikan pertanyaan di cerdas cermat SD dulu.

Terima kasih buat yang sudah susah-susah membawakan dari jauh.  Sedikit mengobati rindu tanah air [atau makin memperparah? ]. Salah satu keinginan terpendam yang belum kunjung tercapai, untuk berkunjung ke Aceh.

Dendengnya sendiri? Aroma dan rasanya….  Aceh sekali!!

 

July 2, 2008

Warteg PS

Dasar bocah kampung. Sampai tua juga tetap kampungan. Diajak kawan ke tempat makan mahal malah bingung mau makan apa. Yang dicari yang tidak ada.

Seperti ini salah satunya yang dicari dan diangan. Nasi bungkus Warteg PS.

PS stands for Pasar Sore.

Yang makan di Warteg PS beraneka ragam. Paling ngetop di kalangan sopir taksi. Kadang kala bila kami naik taksi dan melewati Warteg Biru ini, sang sopir dengan sedikit nada promosi dan menyalahkan [belum tahu dia kalau kami sudah tahu], sambil menunjuk berkata: Saya sering makan di situ, lhoh! Nasinya wenak tenan.

Hukum lebih enak makan di tempat dibuatnya harus saya kecualikan untuk Warteg PS. Soalnya rada gimanaaaa gitu, kalau makan di sana. Lha, yang nongkrong berpeluh-peluh makan di sana kebanyakan cowok dan bapak-bapak. Jadi lebih baik saya bungkus lalu bawa pulang, duduk nangkring bagai di warteg tapi di rumah sendiri. Asoy, bukan.

July 1, 2008

Burjo

Jam tujuh pagi. Mari kita sarapan dulu. Jalan sebentar ke mulut gang itu. Bertemu sama keluarga yang sudah melayani pernghuni gang dan sekitarnya, kaya-miskin, tua-muda, balita, kakek-nenek, tukang ojek, direktur pete angin melambai, mahasiswa, anak teka.

Rasanya kok ya, masih sama dengan jaman dulu. Bikin semangat menghadapi hari yang baru. Tahukah Ibu yang melayani saya itu bahwa burjonya membawa nikmat yang banyak buat saya?

Yuli bertanya waktu menawarkan membawakan martabak telur ke kandang singa dan saya tolak: Jadi sudah puas, wisata makanannya waktu mudik lalu?

Saya menjawab: Ya belum sih, tetapi kalau tidak dimakan di tempatnya dibuat, kok ya rasanya gimanaaaaa, begitu.

 

June 17, 2008

Si Djempol Yang Jempolan

Sejak 1932 bikin roti terus! Mantap bukan? Mana rasanya sungguh dahsyat. Sejauh ini, roti paling maknyusss buat saya.

Berhubung tidak bisa pergi langsung ke Solo, maka Solonya saja yang diusung ke Jakarta. Kami kirim kabar lewat telpon untuk menyatakan bahwa kami akan memesan roti dan menanyakan harganya. Kirim uang lewat ATM BCA ke nomer rekening yang diberi tahu lewat telpon di atas. Lalu setelah kirim uang, bukti pengirimannya dikirim lewat fax beserta rincian pesanan, nama lengkap pemesan, alamat pengiriman barang, dan nomer telpon pemesan. Lalu telpon lagi untuk memberitahu bahwa sudah kirim uang dan fax. Lalu tidak lama kemudian ada telpon masuk, memberitahu bahwa fax sudah diterima dan membacakan nama, alamat, dan nomer telpon pemesan. Beres.

Kata Bapak yang menerima telpon di ujung sana, pesanan akan datang dalam waktu 2 hari kerja. Uang dikirim hari Selasa sore.

Lha kok, Kamis pagi barang sudah sampai dengan selamat di rumah. Hebat! Salut!

June 16, 2008

Intisari Bandung

Kata Master Oogway, tidak ada sebuah kebetulan di dunia ini. Percayai bahwa diri sendiri mampu.

Berbekal kalimat sakti itu [sebetulnya ini pernyataan yang dilebih-lebihkan] maka kami pun menyusuri Bandung tanpa tujuan lain selain yang utama: berjumpa para kuda di depan ITB.

Akhirnya martabak Intisari kami anggap sebagai bonus besar kunjungan ke Bandung. Ditemukan tanpa sengaja akibat menghindari kemacetan sejak berbelok di Banceuy. Mengherankan karena bila dapur martabak lain baru buka paling cepat jam 5 sore, Intisari sudah menggelar dagangannya tepat jam 3 saat matahari Bandung sedang poanas-poanasnya.

Waktu saya tanyakan apakah saya boleh memotret dari bagian dalam, Ester yang manis dengan penuh senyum ramah membukakan pintu samping.

Ester bilang, warungnya baru saja buka. Saya tanya: Oh, sudah berapa lama bukanya? Saya pikir kok warungnya sudah tampak berumur tapi kok dibilang baru buka. Melihat bangku dan perabotannya, mestinya umur warung ini sudah puluhan tahun. Oalah, ternyata Ester mau bilang bahwa tepat jam 3 tadi mereka baru buka untuk hari itu. Saya kemungkinan besar adalah pelanggan pertama karena saya datang hanya beberapa menit lewat dari jam 3.

Sementara umur warung itu sendiri sudah… TIGAPULUH SATU TAHUN. Waw. Benar-benar mewakili hal penting dalam bertahan hidup: keteraturan dan gairah berusaha.

Tadinya Ester sendiri yang akan meracik martabak, tapi akhirnya sang ayah yang turun tangan. Pak Amos namanya, tidak kalah ramah dari Ester beliau malah ikut mengarahkan supaya saya bisa mengambil gambar yang pas.

Yang paling asik dari Intisari: martabak asinnya. Kuahnya yang merah kental jelas beda dengan martabak telor bebek sepanjang Balai Pustaka Rawamangun.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan