matahari dan bintang

January 26, 2009

Cuma Beda Koma

Filed under: Bahasa Bahasa

Kadang rasanya capek sekali melihat isi e-mail jaman sekarang. Ada kalanya 1 dari 4 e-mail yang saya baca berisi ‘bahasa SMS’.

Bahasa SMS untuk sementara saya artikan sebagai bahasa yang muncul setelah orang ramai menggunakan SMS sebagai alat bicara. Bahasa yang penuh dengan singkatan, begitu.

Mungkin saya yang beranjak tua. Saya memang belum menemukan orang yang usianya setengah umur saya, yang keberatan dengan bahasa SMS dalam e-mail.

Tidak perlu bahasa Indonesia yang sangat baik dan benar. Buat saya, akan sangat menggembirakan melihat tulisan ‘Assalammualaikum’ ketimbang sambungan huruf ‘a’ dan ’s’ dan ’s’ yang bisa sungguh lain artinya. Atau tidak perlu bingung ketika mengartikan ‘bgt’ menjadi ‘begitu’ padahal yang dimaksud lawan bicara adalah, ‘banget’. Atau ‘ketika’ menjadi ‘koteka’ untuk ‘ktk’.

Untuk contoh kasarnya, orang memang dibedakan dari kemauannya menulis dengan koma atau tidak. Seperti waktu memilih antara: ‘Mari makan anak-anak.’ dan ‘Mari makan, anak-anak.’

June 18, 2008

Kesasar Bahasa

Filed under: Bahasa Bahasa

Saya baru kembali dari kampung tercinta. Terdampar lagi di kampung lain berkat alat ajaib mirip paus dengan sayap panjang, terbuat dari logam.

Setelah menggeret tas-tas besar yang juga dengan ajaib menyembul dari lubang dinding di sela tirai plastik, saya pergi ke tempat tunggu taksi.

Mendadak saya limbung. Lhoh, ada di mana saya ini? Kenapa tidak ada yang berbahasa Indonesia? Bukankah baru beberapa jam lalu saya dengar hampir semua orang bicara dalam bahasa Indonesia, kalau bukan Jawa, Sunda, atau Batak?

Walah, rupanya telinga saya lebih lambat tanggapannya timbang tangan saya yang terampil mengarahkan troli di Terminal 3 Changi. Dan tentu saja kuping saya jauh jauh lebih lambat timbang mata saya yang jitu membaca semua tanda arah dan pengumuman di layar-layar yang tersebar merata.

Andaikan saya tidak mendengar obrolan orang-orang di sekitar saya, niscaya saya tidak akan merasa aneh. Merasa kesasar karena mendengar bahasa yang beda dengan yang baru saja sering didengar.

Tapi yang di atas itu tidak terlalu bahaya karena hanya dialami saya sendirian, tanpa korban dan pemirsa. Bayangkan baris-baris yang berikut.

‘20 dolar, Mbak.’ Wot, wot, duapuluh dolar? Aduh, ternyata sang mulut jauh lebih cepat memutuskan padahal sang otak belum tamat mengolah kalimat yang harusnya keluar demikian: ‘20 liter, Mbak.’ Terjadi di sebuah stasiun pengisian bahan bakar minyak di Jalan Pemuda. Sang Mbak pengisi bensin tersenyum penuh arti tapi paham-sepahamnya.

‘Nong, kha… nong, kha.‘ Lhoh, kok tidak ada Mbak yang datang padahal sudah dipanggil sekuat-kuatnya? Apa yang salah? Oh, oh, pantas saja, ini Indonesia! Bukan Bangkok! Pantas juga kalau adik kawan saya yang mengalami skandal nong kha tersebut kadang berpesan supaya: Ingat ini di Indonesia, JANGAN BIKIN MALU.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan