Cari Dulu Sampai Semaput
Sekedar omong-omong sama sobat saya di 12 jam sebelah sana. Doi siap-siap mau bobo, saya baru saja mantap duduk di depan komputer setelah toto-toto omah dan sarapan.
Kali itu kami membicarakan betapa ternyata sekolah pertukangan membuat kami makin terbiasa membaca peta. Entah kenapa sedari kecil saya sudah terpana serta terpesona pada peta. Alhasil, kalau saya pergi ke sebuah daerah baru, tentu yang saya cari ya benda itu, peta. Buat saya peta adalah bantuan utama bepergian.
Peta juga bisa memberi kesan umum sebuah daerah baru dan menampilkan berbagai keterangan lewat gambar yang bisa dibaca sekilas dengan cepat. Apakah sebuah kota ada sungai pantai atau gunungnya, semua bisa diketahui hanya dengan beberapa detik memandang petanya.
Tapi tentu saja, tidak semua orang punya kesamaan dengan kami berdua. Kebetulan saja kami yang cocok dengan ‘cari tau sendiri dulu sampai semaput‘ baru bertanya pada orang lain.
Kalimat yang terakhir itulah yang kadang membuat kami berdua terganga bila menjumpai kawan yang sudah bertahun tinggal di sebuah kota tapi belum ‘menguasai’ kota tempat tinggalnya. Sementara kami yang baru mendarat di kota tersebut sudah langsung tau ada apa di sebelah sana dan bagaimana caranya menuju ke sana. Sekali lagi, pasti ini karena perbedaan perlakuan pada peta. Saya memperlakukan peta sebagai alat bantu, mungkin tidak demikian buat kawan yang lain.
Ada yang lebih suka bertanya pada orang-orang di jalan dengan resiko kesasar karena petunjuk yang salah. Ada pula yang senang mencoba-coba jalur kereta atau bis baru tanpa bantuan peta, lalu membentuk sebuah kebiasaan.
Jadi mungkin bila 2 pihak yang punya perlakuan beda pada sang peta bertemu pada satu kesempatan petualangan baru, bisa jadi keduanya akan terganga melihat kebiasaan masing-masing. Yang satu langsung buka buku dan ‘ngobrol’ dengan petanya, sementara yang lain akan menyisir wajah-wajah mana yang mungkin bisa ditanyai.
Saya sendiri, sementara ini tetap bertahan pada kebiasaan baca peta. Kecuali kalau menyetir sendiri yang tentu tidak bisa sebentar-sebentar melirik buku peta, saya masih sangat menikmati peran menjadi navigator di samping Pak Supir atau berkelana sendiri di tempat baru berbekal selembar peta.

durung tau semaput ketika nyari alamat, tapi lecet kaki dah sering. Lha sekarang dah ada om googlemap jadi uenak ta?
Comment by ambar — December 18, 2008 @ 9:25 am
Hahaha, sama Mbak Han, dari kecil saya juga udah terbiasa dan senang ngelihat peta.
Sekarang malah lagi seneng ama temennya peta, GPS.
Mbak Hany ngga tertarik?
Comment by IndraPr — December 20, 2008 @ 4:29 pm
mbaaaa… tinggal klik aja link nya, nanti peta akan mengantarkanmu langsung ke tujuan;).. welcome back! miss uu
Comment by mayaa — December 22, 2008 @ 11:44 pm
Kemana aja nih Han? sibuk ya? iya mungkin karena bidang Teknik sipil memang bikin kita gampang jadinya baca peta.
meskipun aku sudah suka sejak kecil dulu, suka jadi navigatornya papa kalau jalan keluar kota bawa peta Indonesia , biasanya kami jalan dari jawa sampai sumatra atau jawa-bali. Aku kira aku aja yang suka lihat dan baca peta, nggak tahunya ada juga hehehe, oya, anakku Michael juga udah mulai suka lihat peta www.maps.google.com malah dilengkapi gambar seolah olah kita lagi jalan jalan dijalanan , itu yang bikin dia asyik lihatnya.
Comment by Holly — December 23, 2008 @ 12:50 pm
Bener, sekarang tinggal lihat google maps atawa pake HP berGPS
Salam kenal yah
Sesama tukang
Comment by muridkehidupan — December 23, 2008 @ 9:22 pm