Sedikit Sini Sedikit Sana
Biru dan kuning ternyata menarik sekali disandingkan. Paling tidak seperti terlihat di samping. Kesannya serasi. Kuning tenda atap daerah di mana kursi-kursi jemur berjajar, yang ternyata tidak terlalu berguna waktu matahari sedang semangat sekali menyengat. Biru langit yang menyesatkan karena waktu indah birunya pol, matahari ganas menggosongkan kulit.
Gambarnya saya ambil waktu jalan-jalan ke Wild Wild Wet di timur Singosari Singapura sana. Baru sekali itu saya pergi ke WWW. Itu pun karena ada yang bersedia membayari. Kalau tidak dibayari, besar kemungkinan saya masih enggan masuk ke WWW berhubung harga karcisnya bisa saya pakai membuat setumpuk sate.
Omong-omong selingan sejenak, waktu saya ke WWW itu, saya sempat melihat 2 putra pentolan grup ben The Batu.
Kembali ke obrolan sebenarnya. Saya mohon maaf karena belum membalas pesan-pesan yang kawan-kawan tinggalkan di kotak teriak dan kotak tanggapan tulisan-tulisan saya. Beberapa pertanyaan tentang ASI dan pulau Sikuai juga belum terjawab. Saya jawab sekaligus saja di sini.
Tentang ASI, saya anjurkan untuk mengikuti kata hati saja. ASI terbaik untuk bayi, itu sudah jelas. Perabotannya juga jelas, menempel di badan kita. Tinggal jawab pertanyaan terpentingnya, apa kita mau untuk memberikan ASI. Petunjuk pelaksanaan pemberian ASI-nya bertebaran di mana-mana, koran, majalah, internet, narasumber langsung seperti dokter pro-ASI, ibu mertua, ibu kandung sendiri, tetangga maupun sahabat. Sekali kita berketetapan untuk tetap memberi ASI, jalan akan selalu terbuka.
Tangisan bayi memang terasa sulit dihadapi terlebih waktu beberapa hari sampai sebulan setelah bersalin. Tapi kegembiraan melihat perkembangan si Kecil karena ASI yang kita berikan adalah hadiah yang sungguh besar.
Tentang pulau Sikuai, saya sama sekali tidak punya keterangan terbaru. Jadi sungguh mohon maaf.
Nah, kalau tentang pulau Singapura, jelas saya punya cerita. Tidak bisa dibilang baru, tapi juga mungkin beberapa belum tahu kalau Singapura sekarang jauh lebih mahal timbang 8 tahun lalu. Belakangan beberapa kawan menanyakan biaya hidup di Singapura. Wah, pasti karena mereka ada kemungkinan pindah ke SG.
E-mail yang beberapa bulan lalu saya tulis untuk kawan lain dengan pertanyaan yang sama, ternyata sudah basi. Harga beras sudah beda dengan 6 bulan lalu. Kokocrunch dan Milo juga naik 40 sen. Telur di warung sebelah naik 30 sen. Belum lagi kalau membicarakan harga sewa rumah yang lha kok belum juga turun.
Saya dengan sedikit enggan mengakui pada kawan terakhir yang bertanya tentang biaya hidup di SG bahwa saya sudah agak enggan memikirkan kecenderungan kemalahan yang kurang jelas kapan berakhirnya. Ada memang yang turun harga. Tapi itu memang selalu turun sejak dulu. Harga langganan bulanan internet tanpa batas.

Han, padahal hanya gambar langit dan tenda yah? Kok jadinya keren banget gitu sih?
Apa kabar jeng?
Comment by Meli — August 15, 2008 @ 4:38 pm