Burjo
Jam tujuh pagi. Mari kita sarapan dulu. Jalan sebentar ke mulut gang itu. Bertemu sama keluarga yang sudah melayani pernghuni gang dan sekitarnya, kaya-miskin, tua-muda, balita, kakek-nenek, tukang ojek, direktur pete angin melambai, mahasiswa, anak teka.
Rasanya kok ya, masih sama dengan jaman dulu. Bikin semangat menghadapi hari yang baru. Tahukah Ibu yang melayani saya itu bahwa burjonya membawa nikmat yang banyak buat saya?
Yuli bertanya waktu menawarkan membawakan martabak telur ke kandang singa dan saya tolak: Jadi sudah puas, wisata makanannya waktu mudik lalu?
Saya menjawab: Ya belum sih, tetapi kalau tidak dimakan di tempatnya dibuat, kok ya rasanya gimanaaaaa, begitu.

burjooo.. seperti makanan dewa buat aku, wajib makan itu kalo sarapan di kantor. murah meriah dan mengenyangkan
Comment by ana — July 31, 2008 @ 10:31 am