matahari dan bintang

April 22, 2008

Act Like One

Nasi goreng yang paling saya suka dari masa lalu ada 2 macam. Yang satu dijual di Kantin 1920 di gedung pendek persis sebelah Rektorat UI, yang lainnya adalah yang dijual di gerobak dorong oleh Abang yang mangkal di halte bis kuning antara Perpustakaan bundar UI dan Kampus Fasilkom. Tentu saja, anda yang mengenal saya dengan baik akan mengerti mengapa saya suka nongkrong di kedua titik tadi.

Beberapa tahun belakangan saya menambahkan satu nasi goreng lagi ke dalam daftar, yaitu nasi goreng yang cuma ada di kantin mesjid Oi Kwan Road, Hong Kong. Semua nasi goreng yang ada di daftar saya, susah didapat berhubung saya tidak tinggal di Depok, tidak juga di Hong Kong. Meranalah saya.

Sekarang masih merana? Tidak lagi.

Omong-omong, waktu saya pergi ke Batam minggu lalu, Erwin kawan SMA kami berkata bahwa beruntunglah saya yang bisa memasak ini dan itu. Saya katakan padanya, bahwa saya memasak karena saya harus masak. Kalau saya tidak masak, siapa lagi yang masak. Mengandalkan beli makanan jadi di luar rumah, tentu banyak halangannya entah itu halangan dari alam atau halangan keadaan kantong atau rasa malas keluar rumah. Saya perjelas pada Erwin, mungkin kalau saya masih tinggal di Jakarta, memasak adalah sesuatu yang akan saya lakukan sesekali saja.

Sejak 2000, memasak menjadi hal penting dalam hidup saya karena saya jauh dari penjual makanan kegemaran saya. Bukan berarti saya suka sekali memasak dan gemar mencoba resep baru. Memasak buat saya adalah keharusan, salah satu alat untuk bertahan hidup. Saya akan masak kalau saya perlu makan.

Kembali ke nasi goreng. Saya tidak lagi merana karena tahun ini saya ‘menemukan’ juklak dan juknis, betul: petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, untuk membuat nasi goreng saya jadi makin yahud! Berhubung sekali lagi, masak buat saya adalah urusan bertahan hidup, maka saya juga cukup memakai naluri supaya mendapatkan hasil yang menurut selera saya enak. Waktu bukan masalah, saya suka melakukannya sedikti demi sedikit dan tidak terburu-buru.

Sejak perjumpaan dengan nasi goreng Oi Kwan Road yang sangat top itu, sesekali saya akan berpikir-pikir bagaimana ya, cara mereka memasak sampai bisa mendapatkan hasil yang demikian cemerlang. Saya tahu pasti mereka memasak dengan api besar dalam waktu singkat. Sampai bau bawang putihnya pun tidak tercium langu. Cuma tinggal rasa sedapnya saja.

Untuk menanyakan resepnya? Waduh, satu hal ini memang cenderung saya hindari. Entah kenapa, begitulah saya sejak dulu. Saya akan makan di sebuah warung, saya akan terima apa adanya masakan mereka. Kalau enak, saya akan kembali, dan sebaliknya. Tapi untuk me-reka ulang masakan mereka di rumah, saya tidak akan menanyakan resepnya. Saya pernah satu kali saking terdesaknya menanyakan resep bumbu kuah kuning bubur ayam kesukaan saya pada mang Sakam yang suka ngetem di depan rumah. Jawabnya: ‘Bumbu opor biasa kok, Non.’

Buat saya, resep adalah sesuatu yang unik yang ‘dicintai’ oleh pemiliknya. Apakah resep itu hasil tafsiran dari resep lain yang mirip, tidak masalah. Juklak dan juknis masing-masing tukang masak bisa beda walaupun bahannya sama, dan itu yang membuat setiap masakan jadi istimewa. Kalau saya sampai pada tahap yang sangat ingin sekali menghasilkan sebuah masakan dengan cara seseorang, maka hal yang akan saya lakukan adalah mengikutinya sejak membeli bahan makanan mentahnya dan memperhatikan bagaimana pengolahannya sampai akhirnya bisa tersaji di meja makan.

Kembali ke cara memasak nasi goreng: Tapi entah kenapa saya masih enggan, malas, atau bahkan takut mencoba untuk meniru habis-habisan gaya mereka memasak nasi goreng. Mungkin saya masih berada dalam daerah tarik-menarik antara makanan enak dan makanan sehat. Sehat tidak sama dengan enak? Enak sama dengan tidak sehat?

Perlahan tapi pasti akhirnya saya sampai juga ke tahap peniruan tingkat tertinggi. Wajan saja sudah pas seperti Abang yang gerobak nasgornya mangkal di halte dekat Fasilkom. Susuk wajan saya juga sudah pas, bukan kayu bukan teflon, tapi dari baja dengan pegangan kayu. Bumbu sudah siap, telur sudah dikocok di mangkok, sayuran sudah disiangi dicuci dan dipotongi.

Sebetulnya ini berawal dari ketidaksengajaan terlupa mengecilkan api kompor. Api yang saya pakai ada di setelan terbesar. Sreng… saya masukkan telornya, dikopyok sampai berserabut, masukkan sayurnya, nasinya, bumbunya, sreng sreng sreng…. DOK DOK DOK susuk wajannya saya ketuk-ketuk ke wajan persis gaya Abang yang gerobak nasgornya mangkal di halte dekat Fasilkom. Sreng sreng sreng…. DOK DOK sreng sreng…

Matanglah nasi goreng saya dalam lima menit saja. Enak? ENAK! Enak sekali. Puncak tertinggi petualangan nasi goreng buatan sendiri.

7 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://bintangmatahari.blogsome.com/2008/04/22/act-like-one/trackback/

  1. Waah, kantin 1920 sudah berganti menjadi Kantin Prima, trus nasi gorengnya bedaa… (alias kurang enak :-p), sedang yang abang-abang deket Perpus juga sudah bergeser (tapi entah kemana?)

    Comment by sita — April 25, 2008 @ 4:27 pm

  2. glek …

    Comment by eChie — April 26, 2008 @ 10:54 pm

  3. oooooooh……….1920 !!!!!!!!
    tapi pasti diantara kita berdua, gk ada yg pernah mencoba bikin bakcol !

    Comment by jeng endang — April 27, 2008 @ 7:50 am

  4. Boleh dicoba kan penemuannya, sebelum di paten sama yang menemukan hehehe..bolehkan..please ?? apakabar, maaf jarang ninggalin jejak bu

    Comment by Holly — April 27, 2008 @ 10:14 am

  5. hm…mau dong nyobain nasgormu…..:)

    Comment by ati — May 4, 2008 @ 12:46 am

  6. mau dong dikirimin nasgornya ke Bedok….:) jadi ngidam nasgor dech jadinya…..

    Comment by fenny — May 8, 2008 @ 12:04 pm

  7. potonya mana bu ? :)

    Comment by husna — May 22, 2008 @ 1:29 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan