matahari dan bintang

December 18, 2007

Belanja Bareng Yuk!

Pagi ini Ambar mengirim sebuah surat listrik yang berisi tulisannya. Aduh, saya baru ingat! Kami sudah saling janji akan membuat tulisan yang diterbitkan bersamaan [12.55 18.12.2007] untuk meramaikan musim obral di seluruh dunia yang serempak menggema setiap akhir tahun. Saya malu karena tulisan saya belum selesai. Maka, saya cegah diri saya untuk membuka dan membaca lampiran surat Ambar yang berisi tulisannya itu. Saya harus selesaikan tulisan di bawah ini dulu, lalu menerbitkannya, baru saya akan baca tulisan Ambar. Biar jadi kejutan. Jadi, berikut inilah tulisan saya.

    Di atas pintu rumah saya ada 2 buah kambil menggantung. Kambil itu kepala eh kelapa, dalam bahasa Jawa. Kalau ada kawan yang datang lalu memandangnya dengan penuh selidik terus melihat ke arah saya dengan muka penuh tanda tanya, saya langsung menyambar: ‘Itu bukan sajen!’

Memang bukan sajen, lha wong cuma ingin beli saja waktu melihatnya teronggok di sebuah sudut toko besar sekali yang jualannya diberi harga sama semua, SGD 2. Nama tokonya Daiso. Kejadiannya sekitar 3 tahun lalu. Saya belum pernah belanja di Daiso. Karena penasaran, saya lalu ke sana bersama Mela.

Sebuah kesalahan besar karena saking senangnya saya ketemu Mela [saya sudah pindah ke bagian yang lebih barat dari barat Kampung Singa, sehingga lebih sulit dan jarang bertemu Mela], diri saya jadi tidak terkendali. Rasa senang itu ternyata sama bahayanya dengan rasa sedih atau rasa marah bila dipadankan dengan kata belanja. Akibatnya bisa mematikan, hehehhe… Maksud saya, mematikan kesempatan belanja yang selanjutnya, tentunya. :D

Mela pasti ingat berapa hitungan benda yang masuk ke gerobak dorong belanjaan saya di Daiso waktu itu. Ugh, mainan kereta-keretaan ini lucu sekali yah. Masuk dulu, nanti baru dipikir apa jadi dibeli atau tidak. Waaaw, warna cat ini cocok sekali untuk pintu saya yang memang sudah bluwek catnya. Taruh di keranjang gerobak dorong. Wiiiih, keranjang-keranjang bambu ini sempurna sekali untuk tempat sendok garpu! Ambil 4 biji sekaligus.

Kegiatan di atas berjalan dengan lancar di sela perbincangan panas tentang berbagai hal serta memantau kegiatan 3 orang anak kecil yang berlarian penuh semangat di antara deretan rak Daiso.

Tanpa terasa gerobak saya sudah setengah penuh. Saatnya menuju kasir untuk membayar. Lhoh, saya kok lupa untuk menyaring belanjaan saya? Ah, sudahlah. Toh, nantinya barang yang saya beli akan berguna juga. Begitu pikir saya. Saya menghitung secara kasar kira-kira berapa uang yang harus saya bayarkan. Omaigaaat! Barang yang saya beli ada 32. Maka harganya adalah SGD 64. Kurang duitku! Haduh, untung ada Mela. Mela sendiri cuma membeli beberapa perintilan saja, jauh lebih sedikit dari jumlah belanja saya.

Ini pasti akibat sampingan dari menyatukan acara reuni dan belanja. Saya belum termasuk orang yang percaya bahwa belanja bersama itu penting. Tapi melihat satu contoh saja di atas, saya sudah kapok. Harus saya hindari kegiatan semacam ini. Kalau mau reuni, ya lebih baik di tempat makan atau di rumah atau di pantai saja. Bisa berakhir di rumah sepanjang bulan tanpa kesempatan jalan-jalan bila saya memelihara kebiasaan belanja bersama. Sampai beberapa bulan saya tidak percaya pada kemampuan mengendalikan diri sendiri, jadi beberapa ajakan belanja bareng barang printilan bersama saya tolak mentah-mentah.

Lepas beberapa bulan dari masa penolakan belanja bareng yang saya sebut di atas lewat, saya sendiri yang malah kangen dengan acara belanja bersama. Awalnya tidak sengaja. Ellen juga gara-garanya. Sayang Mela tidak bisa ikutmeramaikan karena sudah pindah ke Batam dan saya jamin juga pasti akan menolak bila diajak karena jadual yang tidak masuk akal serta jauhnya Pasar Geylang dari Bukit Batok [seperti juga Imel yang kapok walaupun baru satu kali hadir di acara serupa].

Tapi kali ini dipilih pertokoan yang dijamin malah bikin puas dan tidak banyak menyesal. Pasar Geylang. Barang yang kami beli di sini sudah dihitung dengan cermat berdasarkan kemampuan menenteng belanjaan dengan kendaraan umum serta kebutuhan makan sejumlah anggota keluarga selama beberapa waktu. Tentu saja lebih aman dibanding belanja bersama di pusat belanja seperti IMM, soalnya barang yang dibeli kebanyakan adalah yang mudah rusak dan busuk, ikan, ayam, babat, ati sapi, tetelan, ati ampela ayam, buntut sapi, cabe rawit, cabe keriting, kedondong, mangga untuk rujak, buah markisa, daun salam, serta bahan makanan kering asal Indonesia.

Kawan-kawan dan saya beberapa kali mengadakan arisan tanpa kocokan di sana. Berbelanja 15 sampai 30 menit, lalu nongkrong sarapan nasi ayam atau bubur ayam tawar di pujasera pasar Geylang. Minumnya segelas teh manis panas.

Ah, saya kangen sekali dengan kegiatan itu. Belakangan kami sibuk dengan kegiatan masing-masing, juga karena liburan anak-anak yang membuat banyak dari kami mudik, sudah lama kami tidak belanja bersama di Geylang.

Lalu tidak lama sebelum demam Geylang, saya juga makin mengasah ketrampilan jalan-jalan di pusat belanja di sekitar Orchard. Kawan-kawan yang datang dari Indonesia biasanya menginap di sekitar sana. Maka kalau kami bertemu, ya akhirnya mentok di sekitar sana saja. Saya terpaksa jadi melewati deretan panjang toko dan sesekali tergoda masuk ke sana. Dan saya menemukan sesuatu yang baru! Saya senaaaaang sekali kalau bisa masuk ke toko-toko yang memajang barang-barang cantik bagus menarik hati itu, memegang-megang pajangannya barang sebentar, menimbang-nimbang lalu keluar dari toko tersebut tanpa membeli apapun. Rasanya bebas dan ringan sekali sampai di pelataran toko tersebut. Hehehehhe… :D

Di lain pihak, saya sama sekali tidak takut akan pengaruh buruk dari belanja online karena saya cuma akan menggunakannya untuk membeli buku. Saya salah satu jenis manusia yang harus melihat barangnya dulu sebelum memutuskan akan membeli.

Akan halnya belanja bersama di mol, belakangan saya melakukannya lagi bersama seorang sobat saya. Tapi biasanya tidak direncanakan, cuma akibat sampingan dari pertemuan kami yang lumayan sering itu. Kadang-kadang sobat saya itu mengajak mampir di toko anu dan toko itu, yang besar-besar dan menjual barang-barang menarik hati. Kali ini saya sudah lebih siap. Kekebalan yang saya peroleh berkat pengalaman lalu bekerja dengan baik. Saya sembari melihat-lihat barang dan kegiatan sobat saya tersebut sesekali akan nyeletuk yang pernah membikin manyun sobat saya dan mencap saya sebagai penggagal acara belanjanya:

‘Lo kan udah punya, ngapain beli lagi.’
‘Yang lama masih ada, kan?’
‘Gak penting itu, besok-besok aja balik lagi. Gak usah beli sekarang.’

Buat saya, tidak penting dicap sebagai pengganggu acara belanja sobat saya. Sekarang saya punya tambahan satu kepuasan lain. Saya puas sekali kalau bisa ‘menyelamatkan’ kawan belanja saya dari belanja-belanja barang yang tidak penting.

–Kampung Singa, tidak jauh dari Kandang Kerbau, Senin, 18 Desember 2007

7 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://bintangmatahari.blogsome.com/2007/12/18/belanja-bareng-yuk/trackback/

  1. makanya jangan deket2 mela, ntar kena samber :)

    Comment by ambar — December 18, 2007 @ 1:03 pm

  2. hehehe… kalo saya lebih seneng belanja sendiri, soale “berantem” nya sama diri sendiri.. kalo udah capek berantem bathin-nya, mending pulang atau “mlipir2″ sambil ngopi aja…. kalo ajakan ngopi bareng rasanya sulit kutolak Han… ;)

    Comment by Wati — December 18, 2007 @ 1:35 pm

  3. Paling ampuh kalau belanja bareng Budi, bener-bener bisa bikin nafsu belanja hilang, hihi. Boleh pinjem kalau mau :D .

    Comment by eChie — December 18, 2007 @ 6:29 pm

  4. melawan godaan kala jalan-jalan, bawa duit gak lebih buat ongkos dan makan… hehehehe tp tetep nyelipin duit juga di sela-sela kantong dompet sembari ngebatin “buat jaga jaga kalo kalo….” hehehehe…

    Comment by triplet's mom — December 19, 2007 @ 6:18 pm

  5. wah…jadi penyelamat yah? bukan jadi kompor biar teman blanja lebih banyak? hehehehe

    Comment by de — December 19, 2007 @ 6:47 pm

  6. nah … dulu2 yang suka begitu tuh coni, kalo jalan ke daiso … coni suka ngelirik terus nanya, “itu apa? emang lu butuh banget ya?” dan kalo dijawab, “gw suka aja, lucu …” … hitungan sekian detik, itu barang bisa balik ke raknya lagi dan dengan entengnya dia akan bilang, “kalo gitu, sebenernya lu ga butuh … jangan buang duit deh, sayang duit elu …” … weks … aku bengong bego aja sambil ngekor dia … tapi akhirnya lumayan ampuh tuh buat nyetop belanja2 yang sebenernya ga butuh2 amat. hehehe

    Comment by meity — December 21, 2007 @ 5:46 pm

  7. he…he….alhamdulillah sekarang udah mulai bisa ngontrol nih (nafsu belanja)

    Comment by hera — December 27, 2007 @ 3:05 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan