Tangga Dermaga Penumpang Pulau Ubin
Saya bayangkan saya sedang kembali berada di kelas Pelabuhan Laut I. Hari pertama saya masuk kelas, pesertanya masih nyaris memenuhi kelas. Mungkin mereka ingin tahu, siapa pengajar barunya. Mungkin juga cuma menjajaki, pelajarannya cool atau tidak.
Kalau saja saya bawa foto ini ke kelas waktu itu, mungkin saya bisa berharap pada minggu kedua kunjungan saya, pesertanya tidak terpancung jadi tinggal separuh. Maklum, Pelabuhan Laut termasuk salah satu pelajaran abstrak yang perlu banyak imajinasi. Sedikit gambar tentu sangat membantu.
Percakapan satu sisi [sisi satunya sengaja tidak dibayangkan] yang saya perkirakan akan berlangsung adalah seperti yang tertulis berikut.
Dari gambar pertama ini, apa yang bisa diceritakan?
Sebuah bangunan beratap, terletak di kawasan pantai [terlihat dari sisi kiri foto di mana ada pepohonan dan pasir]. Bangunan ini disebut dermaga. Kebetulan dermaga yang dibahas di sini adalah dermaga penumpang [manusia] yang ada di Pulau Ubin, Singapura. Dermaga ini ditopang tiang-tiang pancang tegak dan miring dari beton.
Dari gambar, kita juga bisa lihat bahwa ada orang yang sedang menunggu. Mereka akan diangkut perahu kayu [sedikit terlihat di sisi kiri foto] ke pelabuhan di Changi Village.
Foto kedua memperlihatkan sisi selebihnya dari dermaga Pulau Ubin. Ada lebih banyak lagi orang yang menunggu. Saya mengambil foto ini dari atas perahu yang sedang merapat mendekati dermaga.
Foto pertama dan foto kedua saya buat berurutan. Lihat bapak yang berbaju abu-abu di ujung kanan foto pertama? Sama dengan bapak yang ada di sebelah kiri foto kedua.
Terlihat pula ada sebuah papan yang mengingatkan penumpang agar menjaga keselamatan masing-masing. Naik turun penumpang di jenis angkutan apapun, keselamatan adalah hal yang paling menjadi perhatian. Demikian juga dermaga, harus dibuat berdasarkan asas keselamatan manusia dan benda bergerak yang terlibat dalam kegiatan bongkar muat.
Foto ketiga diambil sewaktu perahu yang saya tumpangi bergerak meninggalkan dermaga. Kegunaan tangga di dermaga terlihat jelas di foto ketiga.
Bisa kita bayangkan, dermaga penumpang seperti ini tanpa tangga pasti tidak akan bisa menaikturunkan penumpang ke perahu. Jadi, bangunan tangga sangat penting artinya.
Ada keanehan pada tangga di foto ini? Yak, anda betul sekali. Sisi tangga yang ada di dekat dermaga mempunyai pegangan tangan [railing]. Sementara sisi tangga yang menghadap laut tidak punya railing. Kenapa dibuat demikian?
Bukankah harusnya tangga punya railing di dua sisinya supaya orang yang berlalu lalang dan berpapasan di atasnya dapat berpegangan sehingga tidak jatuh?
Bukankah asas keamanan tangga salah satunya adalah railing?
Betul sekali. Pendapat tersebut tidak ada salahnya. Tetapi sayangnya tidak sesuai digunakan di dermaga. Tentunya anda mengenal pasang surut air laut, bukan?
Keadaan alam bernama pasang surut-lah yang membuat tangga dermaga harus terbuka di sisi yang menghadap laut. Bila anda sempat bertualang dari Tanjung Pinang ke Pulau Penyengat, anda akan melihat bahkan di kedua sisi tangga dermaganya tidak diberi railing. Mungkin hal tersebut bersangkutan dengan kendala biaya.
Jadi, apa maksud pasang surut membuat tangga harus tanpa railing di sisi yang menghadap laut?
Kebetulan saja waktu saya mengambil foto, laut sedang surut. Permukaan airnya menyentuh ujung bordes bawah tangga. Bila laut pasang, muka laut akan merambat naik. Kapal terpaksa merapat di tengah tangga. Orang tidak bisa naik turun kalau dipasang railing di sisi yang menghadap laut di mana kapal merapat.
Apa lagi yang harus diperhatikan pada waktu pembuatan tangga? Ukurannya. Perhatikan anak kecil berkaos kuning dan bersandal merah muda yang sedang naik tangga. Dia bisa menaiki tangga dengan mudah dengan kaki kecilnya. Kenapa? Karena tangga dibuat dengan kemiringan yang tidak terlalu curam. Juga tinggi undakan tiap anak tangga tidak melebihi kemampuan pendakian tangga rata-rata manusia Asia. Tentu saja, makin nyaman tangga, artinya makin mahal harganya.
Kita cukupkan saja pembasahannya di sini. Sampai jumpa di bahasan selanjutnya. Terima kasih untuk perhatiannya. Sudah malam, hati-hati di jalan.

Pertamax!
Kapan ya bisa ke Pulau Ubin…
Comment by IndraPr — November 14, 2007 @ 11:47 am
saya baru tahu… thanks for the info.. jadi semua hal itu pasti ada alasannya yah Han, termasuk cara buat dermaga yang baik dan benar. Tidak cepat rusak di hantam ombak, dan segera diperbaiki jika kayu dermaga sudah bolong-bolong..
Comment by meli — November 14, 2007 @ 2:47 pm
ow…gitu…baru tau…tadi gue mikir kenapa ngga boleh pake railing….
Comment by kiky — November 15, 2007 @ 5:09 pm
wah dermaga Pulau Ubin imut sekali
seumur hidup saya, dermaga yang pernah saya lewati ya cuma dermaga pelabuhan merak dan bakauheuni:D
Comment by idah — November 16, 2007 @ 8:35 pm
selalu salut pada orang2 yang manancapkan pondasi di dalam laut
ditunggu pembahasan berikut nya…
Comment by mak nya rifa — November 16, 2007 @ 11:13 pm
bisa nggak han , alasan lainnya nggak dipasang railing disisi satunya, biar gampang bongkar pasang muatan .nggak ngalang ngalangin..hehehe
Comment by Holly — November 17, 2007 @ 11:09 pm
berarti tangganya kids en boat-friendly dong ya. karena aku jadi inget ada jetty yang dibangun tapi tidak boat-friendly…sebel! *lho kok jadi marah2…hehehe*
Comment by hani — November 20, 2007 @ 2:04 pm