Bersalin
Dua hari lalu, dua kawan saya Rani dan Lenny bagai sedang berpacu dalam melodi. Melodinya sama. Cuma kekerapannya saja yang beda. Rani berusaha mengabarkannya lewat berbagai media yang memungkinkan. Blog, SMS, telpon, status di Y!M. Lenny menulis keadaan terakhirnya di halaman Multiply-nya.
Waktu Rani kontraksinya sudah 7 menit sekali, Lenny ternyata juga sudah mulai teratur. Sudah 10 menit sekali. Betul-betul seperti balapan saja. Saya jadi ikut berdebar. Siapa yang bakal nongol duluan tidak begitu penting. Yang penting mereka semua sehat!
Malamnya Rani mengabarkan bahwa Keilani Soemardjan telah lahir, putra kedua Rani dan Indi, adik dari Kainoe Soemardjan. Cerita tentang persalinannya juga menakjubkan. Saya dapati cerita itu dari Rani langsung. Saya pergi menengok Rani sekitar 16 jam setelah bersalin.
Begitu saya sampai di rumah sakit, tubuh saya langsung memakai autodrive. Dari bawah sadar saya langsung muncul perintah: belok kanan untuk ambil uang di anjungan tunai mandiri, belok kanan lalu kanan lagi lalu kiri di belokan pertama untuk mencapai ruang lift pertama, dan seterusnya. Ternyata saya lumayan hapal seluk beluk gedung pertama NUH.
Saya nyaris bertabrakan dengan seorang perempuan setelah belok kanan dan masuk kamar nomer 42. Perempuan ini berjalan dengan sigap dan ceria. Lho! Ini Rani sendiri! Subhanallah, tidak seperti baru saja melahirkan!
Rani tidak henti-hentinya bersyukur karena persalinan keduanya ini tidak seperti yang pertama [pendarahan hebat], berlangsung dengan nyaman dan aman. Tanpa perlu mengejan pula! Kantong ketubannya meluncur lebih dulu, tanpa pecah. Jadi keluar mulut rahim seperti balon saja. Sampai di luar lalu pecah dan membuat Kei terdorong meluncur dengan mulus, tanpa rasa sakit yang berarti.
Wow, saya takjub mendengar ceritanya. Seperti menyaksikan kelahiran kuda saja, begitu saya katakan pada Rani. Sangat alami tanpa bantuan epidural dan induksi. Tapi saya lupa menanyakan, apakah dibuat guntingan lebih dulu di jalan lahir. Rani bilang, belum pernah melihat bagaimana kuda melahirkan. Yah, sebenarnya saya juga cuma menyaksikannya di filem-filem tentang kuda.
Bersalin di dunia moderen sekarang mengalami pergeseran hebat dari ‘cuma’ kejadian alami menjadi sebuah upacara yang panjang dan melelahkan. Kawan-kawan saya banyak yang akhirnya menyerahkan dirinya dipotong pisau bedah untuk mengeluarkan sang bayi. Salah satu alasannya adalah: takut pada rasa sakit.
Itu makanya waktu Lenny mengabarkan [beberapa jam setelah saya selesai menengok Rani dan tepat ketika saya selesai makan semangkok pempek buatan Iif] anak keduanya [perempuan] telah lahir dengan persalinan normal, saya kagum sekali. Persalinan pertama Lenny adalah sesar, jadi yang kedua ini adalah vaginal after caesarian. Sesuatu yang tidak semua perempuan sudi mengalaminya, walaupun juga bukan merupakan hal yang jarang. Saya akan tagih sisa cerita persalinannya bila nanti menengok Lenny.
Salah satu bacaan yang mempengaruhi saya ketika pra persalinan kedua adalah Travels, dari Michael Crichton. Pasca [baca: pas-ca, bukan pas-ka] persalinan pertama yang melelahkan, dan setelah saya tahu saya hamil kembali sementara Hanan masih menyusu, saya mencoba menyimpulkan sendiri berdasarkan rasa-rasa yang saya catat di salah satu laci otak saya: bagaimana sebaiknya mempersiapkan diri menghadapi sebuah persalinan dan menjalaninya dengan senang dan tenang.
Pengalaman memang mahal harganya. Apalagi pengalaman yang dirasakan langsung. Salah satu hal yang tidak bisa dipelajari dari orang lain dan perlu dirasakan langsung untuk bisa menjelaskannya kembali adalah persalinan.
Kebetulan saja di salah satu bab Travels, MC menceritakan hari-hari kedokterannya [1965-1969] di Boston Lying In Hospital. Tantangannya di BLI adalah ibu-ibu yang sedang menanti persalinan. Ada beberapa kelas kamar di BLI, dari yang murah sekali sampai yang sangat mahal. Jaman itu belum ada kemudahan sang bapak untuk ikut menemani istrinya di ruang bersalin. Epidural memang sudah ada, tapi sangat mahal.
MC melihat sendiri, ibu-ibu di kelas tertinggi dan termahal adalah mereka yang senang menjerit dan mengeluh. Sementara kelas kambing yang termurah ditempati oleh banyak perempuan miskin atau yang ‘tersingkir’ dari keluarganya karena mengandung sebelum menikah, yang menurut MC malah ‘yang mendapat pengalaman TERBAIK ketika bersalin’. Mereka yang terakhir ini rata-rata adalah yang paling tabah menghadapi persalinan. Mereka tidak menjerit, tidak mengeluh, menjalani sendiri persalinan tanpa epidural atau bius lokal, dan pulang membawa bayinya sendiri hanya beberapa jam setelah bersalin karena tidak mampu membayar bila berlama-lama di BLI.
Selain cerita-cerita orang tua dan kawan-kawan seperjuangan, hari-hari MC di BLI yang membuat saya semakin yakin bahwa: oh, persalinan adalah sebuah hal paling alami yang pernah terjadi. Bisa terjadi di hutan belantara [saya begitu terkesan waktu menonton kisah dukun bersalin belantara Amazon di sebuah saluran tivi], dan bila terjadi di rumah sakit di kelas termurah pun tidak mengurangi keistimewaannya.
Tentunya ambang rasa sakit tiap orang juga istimewa, tidak sama satu dengan yang lainnya. Kalau Rani dan saya sepakat untuk menikmati saja rasa sakit yang datang waktu kontraksi menjelang persalinan kedua kami, dan menghitungnya sampai 5 menit sekali sebelum berangkat ke rumah sakit, dan cuma beberapa puluh menit setelah berbaring di meja bersalin langsung mbrojol, saya tidak hentinya bersyukur sama Allah karena tidak semua perempuan bisa mengalaminya. Alhamdulillah.

gue tuh seneng hamil dan melahirkan sebenernya….tapi akal sehat mampu mengendalikan….heheheheh
Comment by jeng endang — October 27, 2007 @ 7:45 am
wanita sekali pun gak ada yang tau rasa nya sebelum merasakan sendiri, indah nya
Comment by mak nya rifa — October 27, 2007 @ 6:01 pm
cukup sekali aja ngalami hamil dan ngelahirin triplet! thanks God udah ngasih kesempatan yang teramat berharga buat hidup ku.
Comment by triplet's mom — October 27, 2007 @ 7:17 pm
hmmm jadi berpikir melahirkan saja dirumah..he he he
Comment by ambar — October 27, 2007 @ 8:38 pm
Sedih tidak bisa ngalamin persalinan normal, padahal keduanya pakai kontraksi dan sampai bukaan 8 loh…….yang pertama memang karena tidak ada jalan lain, yang kedua padahal udah siap dengan segala konsekwensinya….dokternya yang tidak sabar…nyesal sebenarnya, tapi alhamdulillah keduanya sehat
Comment by Hera — October 28, 2007 @ 12:13 am
Tdk smua ibu yg mlahirkan sesar bukan krn takut rasa sakit lho.. dan bukan berarti kl sesar pun tdk akan merasakan sakit.. katanya itu seninya jd ibu yak… Seandainya bisa, saya juga kpeeengeeeeeen bgt bisa melahirkan normal tapi apa daya Placenta Praevia Total, placenta bayi pecah kluar saat kontraksi dan mlahirkan kali kedua krn jahitan caesar pertama sdh kurang dr 3mm tipisnya.. bagaimanapun proses melahirkannya ketika pertama kali melihat titipan Tuhan di tangan kita rasanya tdk bisa dilukiskan kan jeng
Comment by mamahoney — October 28, 2007 @ 1:51 pm
Thanks ya mbak ceritanya, jadi ada sedikit gambaran
Semoga Alloh memberi kemudahan saat saya melahirkan kelak, aamin.
Comment by Irma — October 29, 2007 @ 9:30 am
Aku melahirkan 2 kali, dua duanya make epidural yang .saat pertama masih sempat ngerasain sakit yang luar biasa, tapi nggak lama karena minta epidural, yang kedua nggak nunggu sakit banget aku dah minta epidural, dua duanya menyenangnya, aku cerita keteman yang mau melahirkan kalau epidural bikin melahirkan menyenangkan, eh dia coba juga tapi kesimpulannya tetap tidak menyenangkan keadaan melahirkan bagi dia,..ya berbeda lah pengalaman melahirkan setiap orang tergantung kondisi tubuh dan luck yang ada kayaknya hehehe
Comment by Holly — October 29, 2007 @ 11:06 pm
Kalo ngomong soal melahirkan pasti ngak ada abis-abisnya.
Soalnya setiap orang punya pengalaman yang berbeda.. Itulah seninya
Comment by Santy — November 2, 2007 @ 1:45 pm
1.sungsang-caesarian. 2.melintang-tanpa pembukaan-caesarian 3.abortus 19 minggu+mola 4.abortus 8 minggu-d&c 5.abortus 7minggu-spontan 6.abortus 8 minggu-spontan 7.abortus 21 minggu-d&c 8. premature 33 minggu-lungs not fully developed-caesarian.
Tubektomi.
:)
Comment by Mel — November 2, 2007 @ 5:52 pm
oiya lupa jawab, alhamdulillah ga pake digunting dahulu (wong dokternya blon dateng pas lahiran), dan setelah dokternya dateng, diobras sedikit krn first degree laceration (minor tear at the skin only, which is normal).
Comment by Rani — November 4, 2007 @ 11:45 pm
saya melahirkan dengan induksi karena ga merasakan kontraksi sama sekali sebelumnya, setelah induksi saya harus menunggu dan kontraksi selama 18 jam kemudian sampe akhirnya bukaan lengkap dan ketuban pecah. Melahirkan saat dokter belum datang. Alhamdulillah ada suami di samping saya. Hm.. melahirkan emang sejuta rasanya..
Comment by mila — November 9, 2007 @ 11:09 am
betul mbak…menikmati menit demi menit kontraksi adalah hal ternikmat yang pernah aku alami. Menahan sakit, sambil membayangkan bahwa setelah rasa sakit ini berakhir akan ada kegembiraan yang luar biasa…
Menjerit-jerit seperti apapun toh tidak mengurangi rasa sakitnya. jadi mending memejamkan mata…menggigit bibir bawah…merasakan sensasi rasa sakit….sambil berdzikir semampunya….lalu tarik nafas……dan bloong….lega……
Comment by bundaalizza — November 12, 2007 @ 11:19 am
Ah jadi ingat waktu Awliya lahir.. subhanallah… bahagia bangeeettt. Jadi pingin lagi. Sekarang kalau nengok temen yg habis melahirkan pasti nangis haru pas liat si bayi disusuin, pingin lagi dan lagi deh, amazing
Comment by Mimi — November 29, 2007 @ 12:56 pm