matahari dan bintang

October 27, 2005

Surat Cinta

Suatu pagi kawan dari Gunung Gatel menelpon saya. Kami bicara lama sekali. Karena kawan itu bertanya-tanya mengenai kehidupan cinta saya, maka saya tanya balik saja tentang hal yang sama.

Aaah, rupanya begitu misteri cinta sang kawan. Cinta pertama bersemi kala SMA, dipupuk waktu kuliah, berbuah setelah lulus.

Lho, mbak bagaimana anda memeliharanya? Bukankah anda berdua kuliah di tempat yang jauhnya ribuan kilometer? Saya tidak bisa membayangkan jaman itu di mana belum ada SMS dan telpon interlokal sangat mahal, hubungan baik senantiasa terpelihara tanpa ada rasa curiga.

Lho ya gampang saja toh, itu loh pakai surat, surat! Curiga sih ada, tapi ya namanya sudah kadung ya, mau gimana lagi.

Jadi begini, tampaknya kawan saya itu sudah mentok, tok sama pacarnya kala itu. Maklum, namanya juga cinta pertama. Makhluk lain bagai tak terlihat bagusnya dibanding sang pacar. Berani taruhan ada cowok lain yang mendekati kawan itu, tapi langsung mental ditolaknya dengan tenaga dalam tingkat tinggi. Pasti karena bayangan sang pacar yang selalu menghantui setiap langkahnya.

Kembali ke masalah surat-suratan tadi. Ribuan kilo jarak mereka berdua bagai meluruh dalam sekejab waktu Pak Pos tiba di depan rumah sang kawan membawakan amplop berisi coretan kangen pacar. Saya bayangkan, kawan itu duduk di teras dengan dada berdegup sepuluh kali lebih kencang dari biasanya. Mencoba menyobek sampul dengan hati-hati. Menarik isinya dengan lebih hati-hati lagi seakan rapuh sekali. Membuka lipatan kertas surat dengan debaran yang tambah keras gemanya.

Dan, aaah… senangnya sekilas menyapu tulisan dari atas ke bawah dan isinya hanya berita baik. Oke, sekarang bisa bersandar dengan tenang di kursi. Membaca dengan teliti, kali ini. Semua huruf dan tanda baca diteliti, diserap, dan diterjemahkan maknanya. Tentu saja sambil membayangkan wajah, bau, siluet badan dari pacar nun ribuan kilometer di sana. Sambil juga bertanya, apa dia bahagia, apa dia kenyang, apa sudah mandi, apa, apa, kapan, di mana, sama siapa.

Selesai baca surat, lega. Tidak ada berita buruk.

Membandingkan dengan gaya pacaran serba cepat dan tergesa jaman sekarang, wah betapa saya bisa jadi sangat iri kalau saya sedang berumur 15. Mana bisa saya berlama-lama meresapi makna pesan singkat di HP saya. Atau e-mail, atau tulisan di blog seperti ini. Sentuhan pribadinya, paling cuma sepersekian-nya surat yang ditulis langsung oleh tangan pacar, dibumbui oleh mungkin bau keringatnya dan liurnya mungkin, waktu menempelkan perangko. Hehehe…

11 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://bintangmatahari.blogsome.com/2005/10/27/gita-cinta-dari-sma/trackback/

  1. Aku juga ngalamin kok mbak masa2 seperti itu bukan jaman dulu tapi pas udah nikah hihihihihi Bojoku tak tinggal ke jerman thn 99. Biarpun istilahnya jaman udah serba canggih tapi teuteup aja bagi perantauan seperti diriku telpon2an adalah barang yg mahal. Satu2nya cara yah nulis surat. Jadi berasa masi pacaran xixixixixixi Enak lwoh nulis surat itu lebih detil dan terperinci dan kenangannya masi melekat sekarang (surat2nya masi tak simpan dalam satu box khusus ^_^)

    Comment by Santi Mama Rakhel — October 27, 2005 @ 7:59 am

  2. mbak han, lagi nostalgila ya :D

    Comment by nana — October 27, 2005 @ 9:28 am

  3. jadi inget jadul..tapi dengan siapa yak ?*pikir-pikir* hehe..
    kertas suratnya gambar fido dido atau kerokeropi..pakenya kilat khusus..

    Comment by emaknya iffah — October 28, 2005 @ 1:14 am

  4. eitsss jgn salah.. justru liurnya itu yg bikin kita nempel kayak prangko kekekek..

    Comment by mamahoney — October 28, 2005 @ 1:29 am

  5. Bennuulll banget, Mbak ! Surat-surat itu kocak banget… Ketika akhirnya aq ma bapaknya K@ylia rekonsiliasi beberapa tahun setelah nikah, aq kepengen nangis deh krn kumpulan surat-suratku lenyap. Padahal kan OK jg kalo suratq ma surat dia dipasang-pasangin lagi. Ampe sekarang masih dalam pencarian… ato jgn-jgn kecemplung ke laut waktu bapaknya K@ylia dlm perjalanan pulang ya? Hikss…

    Comment by ibu_k@ylia — December 13, 2005 @ 5:14 am

  6. aku senang membaca dan melihat blog kamu

    Comment by agunx — August 25, 2006 @ 3:25 am

  7. Tulisan tangan pacarku, bagus banget. Ibuku ngira dari temen perempuan hahaha. Masih aku simpan juga sampai sekarang. Ga banyak sih, karena ditulis kalau liburan kuliah aja, kalu ga liburan kan ketemuan terus. Bener, kalu udah ada hp, ga punya segitu banyak surat cinta kali ya.

    Comment by stella — September 22, 2006 @ 4:34 am

  8. massyaallah ceritanya romatis bgt,,,
    bagus bnget….

    mudah gw di terima ma cewe gw

    Comment by iyoet — August 2, 2007 @ 3:27 pm

  9. alhamudulillah ceritanya romatis bgt,,,
    bagus bnget….

    mudah gw di terima ma cewe gw
    doain yach

    Comment by iyoet — August 2, 2007 @ 3:29 pm

  10. bersyukurlah pernah mengalami cinta pertama yang indah,karena akan dikenang trus buat selamanya……. walau tidak pernah memilikinya…..

    Comment by rina — December 20, 2007 @ 11:39 pm

  11. boooooooooooo

    Comment by ndai — July 16, 2008 @ 3:48 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by B A Khan