Kadang rasanya capek sekali melihat isi e-mail jaman sekarang. Ada kalanya 1 dari 4 e-mail yang saya baca berisi ‘bahasa SMS’.
Bahasa SMS untuk sementara saya artikan sebagai bahasa yang muncul setelah orang ramai menggunakan SMS sebagai alat bicara. Bahasa yang penuh dengan singkatan, begitu.
Mungkin saya yang beranjak tua. Saya memang belum menemukan orang yang usianya setengah umur saya, yang keberatan dengan bahasa SMS dalam e-mail.
Tidak perlu bahasa Indonesia yang sangat baik dan benar. Buat saya, akan sangat menggembirakan melihat tulisan ‘Assalammualaikum’ ketimbang sambungan huruf ‘a’ dan ’s’ dan ’s’ yang bisa sungguh lain artinya. Atau tidak perlu bingung ketika mengartikan ‘bgt’ menjadi ‘begitu’ padahal yang dimaksud lawan bicara adalah, ‘banget’. Atau ‘ketika’ menjadi ‘koteka’ untuk ‘ktk’.
Untuk contoh kasarnya, orang memang dibedakan dari kemauannya menulis dengan koma atau tidak. Seperti waktu memilih antara: ‘Mari makan anak-anak.’ dan ‘Mari makan, anak-anak.’